Bos BI Beberkan 3 Jalur Dampak Perang AS-Israel Vs Iran ke Ekonomi

Admin Ugems
قراءة دقيقة - Mon Apr 13 07:00:00 GMT 2026

Jakarta, CNBC Indonesia - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti membagikan dampak perang Iran versus Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.

Adapun, dampak perang ini dibagi BI ke dalam tiga jalur a.l. jalur finansial, harga komoditas dan perdagangan atau produksi.

"Jalur pertama ada jalur finansial. Poinnya jalur ini mengetat. Direct impact Iran-Israel bukan financial hub global. Reaksi pasar di Middle East terbatas. Tapi indirect impact besar karena menyangkut AS sebagai financial hub global," kata Destry dalam Central Banking Forum 2026 dengan tema Ketahanan Ekonomi Indonesia dalam Menghadapi Volatilitas Nilai Tukar Global, di Jakarta, Senin (14/4/2026).



Dampak tidak langsung dari jalur ini, Destry mengungkapkan adanya risk off di mana investor menjauhi risiko di pasar sehingga aktivitas safe haven meningkat. Alhasil, kondisi ini memicu pergeseran modal dari negara berkembang ke negara maju. Hal ini membuat indeks dolar meningkat. Indonesia pun ikut merasakan risiko ini.

"Mau gak mau flow ke advance economies termasuk ke AS DXY (indeks dolar) mengalami peningkatan. Flow ke emerging market, tidak hanya di RI juga berkurang," kata Destry.

Destry membenarkan bahwa Indonesia terdampak dari kondisi ini, tetapi pasar Indonesia masih mencatatkan arus modal masuk di Surat Berharga Negara (SBN), saham dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

"Flow ke emerging market ga hanya ke RI tapi juga berkurang. Di RI merasakan walaupun ada inflow di SBN, saham sedikit, SRBI. Tapi outflow Rp 21 triliun overall," papar Destry.



Lebih lanjut, jalur kedua adalah harga komoditas. Dampak langsungnya adalah harga minyak. Dampak langsung ini karena Iran memblokir Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis pelayaran dunia.

Menurut hitungan BI, Destry mengemukakan produksi minyak Iran hanya 5%, tetapi Selat Hormuz memberikan kontribusi 20% dari perdagangan minyak global.

"Sehingga meningkatkan harga minyak, jadi harga minyak kemarin 3 hari lalu sudah tercapai kesepakatan AS-Iran. Tapi semalam belum ada kesepakatan. Akibatnya naik semua, dxy naik di atas 100, mata uang regional advance ekonomi mengalami kelemahan," paparnya.

Dampak tidak langsung dari penutupan Selat Hormuz dan kenaikan harga minyak ini mempengaruhi harga komoditas yang lainnya. BI melihat adanya kenaikan harga emas, batu bara, dan alumunium serta CPO.

"Batu baru naik karena mempersiapkan alternatif energi. CPO naik. Indirect impact cukup bagus ke RI karena ada coal, CPO, emas. Dampaknya ada 2 sisi harga minyak naik tapi komoditi ekspor juga meningkat," kata Destry.



Kemudian, jalur ketiga adalah perdagangan dan produksi. Menurut Destry, dalam hal perdagangan, kontribusi Iran terhadap PDB global hanya 1%, dan eskpor-impor globalnya di bawah 1%.

Namun karena ada hambatan di Selat Hormuz ada disrupsi di UEA dan Arab sehingga ada indirect impact ke negara lain, termasuk China, Irak, Turki, dan India yang menjadi pusat produksi global.

"Sehingga ini meningkatkan biaya pengapalan dan logistik naik jadi ada gangguan global supply chain. Kesimpulannya harga komoditas global naik, emas, coal, nikel, pertanian juga naik. Yang terbaru plastik karena ada supply chain, ujungnya ada penurunan produksi," kata Destry.

Dari tiga jalur ini, Destry mengemukakan PDB atau ekonomi global akan melambat dan inflasi akan meningkat.

"Ini namanya stagflasi ga bagus ya. Respons kebijakan menjadi penting. Beberapa negara kebijakan fiskalnya akan longgar. Moneter yang tren ke bawah akan lebih berhati-hati karena sekarang lomba membuat aset domestik menjadi menarik," tegasnya.


(haa/haa)



Source https://www.cnbcindonesia.com

تعليقات الصفحة