Indeks Bisnis-27 Dibuka Melemah, ADRO dan PGEO Cs Tetap Cuan

Admin Ugems
قراءة دقيقة - Fri Apr 24 07:00:00 GMT 2026

Bisnis.com, JAKARTA – Saham konstituen indeks Bisnis-27 seperti adro hingga PGEO dibuka menguat pada perdagangan Jumat (24/4/2026), meski indeks mengawali perdagangan di zona merah.
Melansir IDX Mobile pukul 09.03 WIB, indeks hasil kerja sama harian Bisnis Indonesia ini turun 0,14% ke 487,82. Pasar mengawali perdagangan dengan transaksi 222,2 juta saham senilai Rp496,8 miliar.
Sebanyak 7 saham konstituen dibuka naik. Mereka antara lain adalah PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (adro) yang menguat 0,40% ke Rp2.520, kemudian saham PT Astra International Tbk. (ASII) naik 2,37% ke Rp6.475, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) naik 0,87% ke Rp232, dan saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) naik 1,87% ke Rp6.825.
Berikutnya, saham PT Pertamina Geothermal Tbk. (PGEO) yang dibuka menguat 0,98% ke Rp1.035, dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang mengawali perdagangan dengan kenaikan 1,39% ke Rp2.920.
Kinerja indeks Bisnis-27 pada pagi ini selaras dengan kondisi pasar. Tim riset Phintraco Sekuritas menyebut pasar saham Indonesia saat ini masih tertekan oleh sentimen pelemahan nilai tukar rupiah. Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada penutupan Kamis (23/4) lalu terkoreksi 2,16% ke 7.378,61, dan pada pembukaan pagi ini juga dibuka turun 0,27% ke 7.358.
Secara teknikal, IHSG telah breakdown support 7.500 dan didukung volume. Histogram positif MACD makin menyempit dan berpotensi membentuk death cross, sementara stochastic RSI mengarah turun di area pivot. IHSG diperkirakan melanjutkan pelemahan dan menutup gap down di 7.308 serta menguji level 7.300.
"Sentimen negatif antara lain berasal dari pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS dan ditutup pada level Rp17.286 per dolar AS di pasar spot. Ini menjadi level penutupan terburuk bagi rupiah sepanjang masa serta merupakan pelemahan paling dalam di Asia," tulis sekuritas, Jumat (24/4/2026).
Analis menilai pelemahan rupiah yang relatif cepat ini di luar estimasi pasar sebelumnya. Saat ini nilai tukar rupiah tertekan oleh beban impor minyak mentah yang harganya melambung imbas konflik Timur Tengah.
Penutupan Selat Hormuz yang berlarut-larut membuat harga minyak bertahan di harga tinggi, di mana minyak Brent sempat menyentuh US$103 per barel dan minyak mentah WTI naik ke level US$98 per barel. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi inflasi dan melebarnya defisit anggaran belanja.
Menilik data pasar keuangan domestik, uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh 9,7% YoY menjadi Rp10,355 triliun pada Maret 2026, berakselerasi dari pertumbuhan sebesar 8,7% YoY di Februari 2026. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan uang beredar M1 sebesar 14,4% YoY dan uang kuasi sebesar 5,2% YoY.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



Source https://www.bisnis.com

تعليقات الصفحة