Jakarta, CNBC Indonesia - Industri galangan kapal nasional tengah menghadapi perubahan pola permintaan. Setelah beberapa tahun banyak menopang kebutuhan sektor pertambangan, terutama kapal tug and barge, pasar kapal baru kini mulai menyusut.
Kondisi tersebut membuat pelaku industri mengalihkan pekerjaan ke jenis kapal lain. Kebutuhan kapal untuk distribusi bahan bakar, minyak dan gas, hingga angkutan penyeberangan mulai menjadi pasar yang digarap sejumlah galangan.
Ketua Umum DPP IPERINDO (Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia) Anita Puji Utami mengatakan, perubahan permintaan tersebut terasa cukup signifikan. Dari sekitar 280 anggota asosiasi yang terdiri atas galangan kapal dan industri penunjang, pembangunan kapal baru kini tidak lagi menjadi pekerjaan yang paling dominan.
"Jadi, ya saya perlu sampaikan bahwa saat ini kebetulan memang dari asosiasi kami kan ada 280 anggota di mana memang terdiri dari galangan kapal maupun industri penunjang yang lainnya. Jadi kalau situasi kondisi industri galangan kapal saat ini, memang pembangunan kapal nasional sudah mulai menurun ya," kata Anita kepada CNBC Indonesia, Selasa (29/9/2026).
Dalam lima tahun terakhir, sektor pertambangan menjadi salah satu sumber utama pekerjaan galangan. Kapal tug and barge (kombinasi antata tugboat dan tongkang) banyak dibutuhkan untuk mendukung aktivitas pengangkutan komoditas, tetapi perubahan pada perdagangan batu bara ikut memengaruhi permintaan pembangunan kapal baru.
Penurunan paling terasa terjadi pada kapal yang berkaitan langsung dengan pertambangan. Sementara itu, galangan mulai mengerjakan kapal untuk kebutuhan distribusi bahan bakar dan energi serta kapal penyeberangan.
"Terutama yang awalnya 5 tahun terakhir itu banyak didominasi oleh pemenuhan kapal guna untuk mensupport industri pertambangan, seperti tug and barge. Tapi saat ini, kebutuhan tug and barge karena adanya beberapa perkembangan di importasi batu bara, itu sangat berpengaruh terhadap bangunan baru yang ada di Indonesia," ujarnya.
Perubahan komposisi pekerjaan juga terlihat dari jenis kapal yang kini masuk ke galangan. Kapal SPOB, mini tanker, kapal pendukung industri oil and gas, serta kapal Ferry RORO menjadi beberapa jenis yang mulai dibangun, termasuk di Batam dan Jawa.
Untuk pekerjaan dari dalam negeri, porsi proyek pemerintah juga memiliki karakter berbeda. Pekerjaan dari Kementerian Pertahanan banyak mengarah kepada BUMN, sedangkan galangan swasta lebih banyak mengandalkan pasar komersial dan pekerjaan pemeliharaan kapal.
"Sehingga menurun hampir sekitar, ya tinggal mungkin sekarang tinggal 40% ya. 60%-nya sudah ter-deliver semuanya, tinggal sisa untuk permintaan bangunan baru sendiri yang terkait dengan industri pertambangan memang benar-benar sangat menurun," kata Anita.
Perubahan tersebut membuat pemeliharaan kapal kini menjadi penopang utama aktivitas galangan. Meski demikian, kapasitas produksi untuk membangun kapal baru masih tersedia dan dapat kembali dimanfaatkan apabila permintaan domestik membaik.
"Kalau dari sisi okupasi dari kapasitas galangan kapal itu sendiri, itu masih feasible lah untuk bisa melakukan pembangunan kapal di Indonesia. Tentunya kami juga berharap adanya bangunan baru kembali di Indonesia, khususnya memang untuk di swasta. Jadi kita juga mendorong kebijakan-kebijakan pemerintah untuk bisa berpihak dengan adanya pembangunan kapal baru di Indonesia," ujarnya.
(fys/wur)
Source https://www.cnbcindonesia.com