Bisnis.com, JAKARTA – Emiten pertambangan batu bara Grup Bakrie dan Grup Salim PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) menjadi saham paling laris manis dalam sesi perdagangan Rabu (5/8/2026).
Berdasarkan data di laman Bursa Efek Indonesia (BEI) Rabu (5/8/2026) hingga pukul 14:15 WIB, total nilai transaksi saham BUMI telah mencapai Rp464,21 miliar. Posisi itu berada di posisi teratas daftar saham teraktif.
Sementara itu, pergerakan saham BUMI juga menghijau dalam sesi perdagangan Rabu (5/8/2026). Harga saham menguat 3,57% ke Rp174 hingga awal sesi kedua hari ini.
Sebagaimana diketahui, Bumi Resources membukukan lonjakan kinerja keuangan pada semester I/2026 dengan laba bersih melejit 188% secara tahunan.
Berdasarkan laporan keuangan per akhir Juni 2026, BUMI meraih laba bersih entitas induk sebesar US$58,9 juta atau sekitar Rp1,05 triliun (dengan asumsi kurs JISDOR per 30 Juni 2026 Rp17.899 per dolar AS) pada semester I/2026.
Sebelumnya, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi memasukkan saham BUMI sebagai salah satu emiten batu bara yang layak dicermati seiring dengan pemulihan kinerja operasional pada semester II/2026.
Adapun, Wafi menyebut BUMI berhasil meningkatkan produksi dan penjualan meskipun harga jual rata-rata mengalami penurunan.
Sementara itu, Manajemen BUMI menjelaskan kinerja solid tersebut didorong kombinasi pertumbuhan volume produksi, peningkatan efisiensi penambangan, serta perbaikan average selling price (ASP) batu bara sepanjang paruh pertama 2026.
Dari sisi operasional, BUMI mencatatkan volume produksi batu bara sebesar 38,5 juta ton pada semester I/2026. Jumlah ini tumbuh 7,1% secara tahunan dibandingkan dengan 35,9 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.
Sejalan dengan itu, volume penjualan batu bara naik 11,7% YoY menjadi 38,8 juta ton. Tingginya angka penjualan dibanding produksi turut memangkas posisi persediaan batu bara menjadi 1,7 juta ton per akhir Juni 2026.
Sementara itu, harga jual rata-rata (FOB) batu bara BUMI mengalami pemulihan sebesar 2,6% secara tahunan menjadi US$62,9 per ton dari posisi 61,3 dolar AS per ton pada semester I/2025. Perseroan juga mencatatkan efisiensi rasio kupasan tanah (strip ratio) yang membaik menjadi 7,5x dari sebelumnya 8,1x.
Realisasi penjualan sebanyak 38,8 juta ton pada semester I/2026 pun dinilai masih berada di jalur yang tepat untuk mencapai target tahunan perseroan.
Untuk sepanjang 2026, BUMI mempertahankan panduan volume penjualan di kisaran 82 juta hingga 84 juta ton dengan proyeksi harga rata-rata US$60—US$62 per ton dan biaya produksi sekitar US$42—US$44 per ton.
Di samping itu, perseroan menyatakan akan terus memajukan strategi diversifikasi ke lini pertambangan non-batu bara, termasuk integrasi aset tembaga dan emas di Australia melalui Wolfram Limited dan Jubilee Metals Limited guna memperkuat ketahanan bisnis jangka panjang.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Source https://www.bisnis.com