IATA Ajukan Revisi RKAB Batu Bara, Bidik Optimalisasi Produksi 2026

Admin Ugems
Lectura de un minuto - Wed Aug 12 01:00:00 GMT 2026

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten batu bara PT Karya Pacific Energy Tbk. (IATA) mengajukan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk mengoptimalkan produksi sepanjang 2026. Perseroan kini masih menunggu hasil evaluasi pemerintah atas pengajuan tersebut.
Presiden Direktur IATA Suryo Eko Hadianto mengatakan perseroan tetap menjalankan kegiatan operasional sesuai dengan rencana kerja yang telah ditetapkan sembari menunggu keputusan Kementerian ESDM.
“Perseroan berkomitmen untuk terus mengoptimalkan produksi batu bara di tahun 2026. Saat ini, Perseroan masih menunggu hasil evaluasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) atas pengajuan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang telah disampaikan sebelumnya,” ujar Suryo dalam keterangan resmi, Selasa (11/8/2026).
Pengajuan revisi RKAB tersebut menjadi salah satu katalis yang perlu dicermati terhadap prospek produksi IATA pada semester II/2026. Namun, perseroan belum mengungkapkan besaran tambahan kuota produksi yang diajukan maupun waktu keputusan revisi RKAB tersebut.

Saat ini, IATA mengelola tiga Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang telah aktif beroperasi, yakni PT Putra Muba coal (PMC), PT Arthaco Prima Energy (APE), dan PT Indonesia Batu Prima Energi (IBPE). Ketiga IUP tersebut memiliki total sumber daya batu bara sebesar 598,23 juta metrik ton (MT) dan cadangan sebesar 287,83 juta MT.
Berdasarkan data perseroan, PMC memiliki sumber daya sebesar 66,71 juta MT dan cadangan 44,63 juta MT. Sementara itu, APE memiliki sumber daya 441,93 juta MT dengan cadangan 222,07 juta MT. Adapun IBPE memiliki sumber daya 89,59 juta MT dan cadangan 21,13 juta MT.
Suryo mengatakan dukungan ekosistem terintegrasi Karya Pacific Group sebagai pengendali baru juga menjadi bagian dari strategi perseroan untuk meningkatkan kapabilitas operasional dan kapasitas produksi.
“Dengan dukungan ekosistem terintegrasi Karya Pacific Group sebagai pengendali baru, Perseroan memiliki posisi yang semakin kuat untuk meningkatkan kapabilitas operasional dan kapasitas produksi melalui sinergi di bidang pertambangan, logistik, dan infrastruktur pendukung,” katanya.
IATA menyebut dukungan tersebut mencakup fasilitas strategis seperti coal loading port/jetty, weigh bridges, dan hauling road. Perseroan juga memperoleh dukungan kontraktor pertambangan untuk kegiatan land clearing, pengupasan lapisan penutup dan lumpur, pengambilan top soil, coal getting and hauling, hingga pengelolaan stockpile.
Dari sisi korporasi, IATA menegaskan melakukan perubahan nama dari sebelumnya PT MNC Energy Investments Tbk. menjadi PT Karya Pacific Energy Tbk. Aksi korporasi itu telah memperoleh persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 22 Juni 2026. Perseroan kemudian resmi meluncurkan logo baru pada 10 Agustus 2026.
Perubahan identitas tersebut, menurut perseroan, tidak memengaruhi kegiatan operasional maupun komitmen kepada pelanggan, mitra usaha, investor, kreditur, dan pemangku kepentingan. Seluruh hak dan kewajiban perseroan tetap berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



Source https://www.bisnis.com

Comentarios de la página