Tiba-Tiba IHSG Turun 1% Lebih, Ini Penyebabnya

Admin Ugems
Lectura de un minuto - Tue Sep 22 07:00:00 GMT 2026

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa (22/9/2026). IHSG merosot lebih dari 1% pada perdagangan sesi I, setelah sempat dibuka menguat.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia sekitar pukul 10:45 WIB, IHSG anjlok 84,62 poin atau 1,33% ke level 6.300,11. Padahal, indeks sempat dibuka di zona hijau atau di level 6.392,34.
Tekanan terhadap IHSG terjadi secara luas, tercermin dari mayoritas sektor saham yang berada di zona merah.
Sektor energi menjadi sektor dengan penurunan terdalam, yakni mencapai 1,99%. Disusul sektor utilitas yang turun 1,77%, properti -1,72%, konsumer non-primer -1,52%, bahan baku -1,33%, industri -1,18%, konsumer primer -0,87%, finansial -0,84%, dan kesehatan -0,72%.
Tekanan semakin terasa karena sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama IHSG.
Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi penekan terbesar dengan kontribusi penurunan 14,6 poin terhadap IHSG. Selanjutnya terdapat PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang mengurangi indeks 7,74 poin.
Saham PT bumi resources Minerals Tbk (BRMS) juga menekan IHSG sebesar 2,98 poin, diikuti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) 2,77 poin dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) 2,45 poin.
Kemudian, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memberikan tekanan 2,21 poin, sama seperti PT bumi resources Tbk (BUMI) yang juga mengurangi IHSG 2,21 poin.
Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) masing-masing menekan 2,15 poin dan 2,11 poin. Sementara PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mengurangi IHSG sebesar 1,98 poin.
Di tengah tekanan tersebut, masih terdapat sejumlah saham yang bergerak positif. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi saham yang memberikan kontribusi positif terbesar terhadap IHSG, yakni 2,11 poin. Disusul PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) sebesar 0,38 poin dan PT Indosat Tbk (ISAT) sebesar 0,36 poin.
Secara keseluruhan, kondisi pasar menunjukkan tekanan jual yang cukup merata. Data IDX Mobile mencatat 137 saham menguat, 546 saham melemah, dan 280 saham stagnan.

Tekanan IHSG hari ini melanjutkan tren pelemahan yang terjadi pada perdagangan sebelumnya. Pada Senin (21/9), IHSG ditutup turun 0,88% ke 6.384,72.
Selain faktor domestik, pasar juga masih mencermati ketidakpastian global. Sebelumnya, harga minyak dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu sumber perhatian investor karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi ekspektasi suku bunga.
Pelemahan IHSG terjadi ketika sentimen di pasar saham Asia justru relatif positif.
Data pada pagi hari menunjukkan KOSPI Korea Selatan naik 1,84%, Nikkei 225 1,38%, Taiwan 0,84%, Malaysia 0,69%, SGX CNBC China Growth 0,62%, Shenzhen 0,62%, SET Thailand 0,56%, dan STI Singapura 0,44%.
Sementara itu, Hang Seng Hong Kong menguat 0,42% dan Shanghai Composite naik 0,22%. Nifty 50 India tercatat stagnan.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mulai menggelar Rapat Dewan Gubernur selama dua hari. Rapat berlangsung selama dua hari, dengan keputusan suku bunga acuan atau BI Rate dijadwalkan diumumkan pada Rabu (23/9/2026).
Pengumuman kali ini akan menjadi yang pertama bagi Destry Damayanti sejak dilantik sebagai Gubernur BI definitif pada 2 September. Berdasarkan konsensus pasar, BI diperkirakan kembali mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Suku bunga deposit facility dan lending facility juga diperkirakan tetap, masing-masing sebesar 4,75% dan 6,5%.
Dalam RDG Agustus, BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%.

(mkh/mkh)



Source https://www.cnbcindonesia.com

Comentarios de la página