Prospek Cerah Saham Pelat Merah di Sisa 2026

Admin Ugems
3 Minuutin Luku - Tue Aug 04 07:09:00 GMT 2026

Bisnis.com, JAKARTA — Evaluasi mayor indeks IDX BUMN 20 oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berlaku efektif pada 5 Agustus 2026 diproyeksikan memberikan dorongan positif bagi likuiditas saham-saham konstituennya.
Berdasarkan hasil evaluasi untuk periode 5 Agustus 2026 sampai dengan 2 Februari 2027, BEI tidak mengeluarkan maupun memasukkan emiten baru.
Adapun perubahan itu berfokus pada penyesuaian jumlah saham dan kenaikan bobot sejumlah emiten, seperti PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) menjadi 10,78%, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (PGAS) menjadi 6,92%, dan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) naik ke 3,04%.
Perubahan ini pun disambut positif. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IDX BUMN 20 ditutup menguat 0,37% ke level 313,28 pada perdagangan Senin (3/8/2026). Kenaikan terjadi di tengah kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang justru melemah tipis 0,03% menuju posisi 6.243,49.

Sepanjang tahun berjalan (year to date/YtD), performa IDX BUMN 20 juga lebih resilien dibandingkan indeks komposit. Indeks pelat merah tercatat mengalami koreksi 17,79% YtD, sedangkan IHSG membukukan penurunan 27,90% YtD.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi memandang bahwa dampak aliran dana pasif dari rebalancing tersebut cenderung moderat mengingat total dana kelolaan indeks IDX BUMN 20 tidak sebesar LQ45 atau MSCI.
Namun, Wafi mengatakan manfaat tidak langsung terhadap profil likuiditas emiten jauh lebih signifikan. Kenaikan bobot pada ANTM dan MTEL, semisal, dinilai akan meningkatkan visibilitas dan frekuensi transaksi secara bertahap.
“Aksi forced buying dari passive rebalancing terjadi pada hari efektif 5 Agustus mendatang, setelah itu efeknya bakal mereda dan fundamental kembali jadi penentu," ucap Wafi saat dihubungi Bisnis, Senin (3/8/2026).
Wafi memproyeksikan indeks IDX BUMN 20 berpeluang mengungguli IHSG pada semester II/2026. Syarat utamanya adalah harga komoditas tetap tinggi, serta evaluasi indeks MSCI pada November mendatang mampu memicu masuknya kembali dana asing ke saham-saham BUMN berkapitalisasi besar.
Sektor yang dinilai paling prospektif meliputi pertambangan dan energi melalui katalis war premium serta kebijakan domestik seperti DMO dan B50.
Selain itu, Wafi menambahkan bahwa sektor perbankan BUMN selektif dan infrastruktur seperti PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR) turut berpotensi terangkat apabila terdapat sinyal pemangkasan suku bunga.
Dari seluruh konstituen, setidaknya ada tiga saham pelat merah yang paling menarik dikoleksi setelah rebalancing. Pertama, PT Bukit Asam Tbk. (ptba) yang menjadi penerima manfaat utama kebijakan DMO, menawarkan dividend yield tertinggi, serta memiliki katalis revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Kedua, ANTM dengan porsi bobot yang melambung, ditopang tren harga emas dunia di atas US$4.000 per troy ounce serta kepemilikan free float yang bersih.
Ketiga, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang dinilai memiliki valuasi sangat murah usai tekanan jual, disokong pertumbuhan laba bersih semester I/2026 sebesar 24,3% secara tahunan dan katalis belanja APBN di paruh kedua.
Di luar ketiga nama tersebut, Wafi menyebut PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) juga menarik sebagai proxy utama perbankan syariah di tanah air.
REKOMENDASI
Di sisi lain, sejumlah analis menyatakan bahwa kinerja saham-saham korporasi negara diproyeksikan memiliki ruang cukup besar untuk memimpin reli pemulihan pasar modal Indonesia pada semester II/2026.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia menjelaskan sektor yang paling prospektif untuk menopang kinerja IDX BUMN 20 meliputi perbankan, logam dan mineral, energi, serta infrastruktur telekomunikasi.
Di sektor perbankan, Liza menempatkan BMRI sebagai pilihan utama berkat tingkat valuasi yang masih tergolong murah, yang ditopang oleh solidnya pertumbuhan laba bersih serta penyaluran kredit perseroan.
Sementara itu dari sektor logam dan mineral, saham ANTM juga dinilai cukup atraktif seiring dengan sentimen kenaikan bobot saham di indeks, serta cerahnya prospek harga emas dan kelanjutan hilirisasi nikel.
Adapun di sektor infrastruktur telekomunikasi, saham TLKM disebut layak dicermati oleh para investor sebagai saham defensif yang didukung oleh arus kas kuat serta pembagian dividen yang relatif stabil.
“IDX BUMN 20 masih memiliki peluang untuk mengungguli IHSG pada semester II/2026, tetapi sifatnya cenderung selektif,” ucap Liza kepada Bisnis.
Dihubungi terpisah, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai bahwa sejumlah emiten BUMN sejatinya telah menunjukkan fondasi fundamental yang relatif solid.
Kendati demikian, para pelaku pasar dan investor institusi masih menanti bukti konsistensi laporan keuangan pada kuartal-kuartal berikutnya untuk melakukan penyesuaian ulang valuasi (re-rating) secara masif.
"Investor menginginkan lompatan kinerja emiten BUMN bersifat berkelanjutan bukan sekadar faktor musiman atau efisiensi biaya jangka pendek," kata Nafan.
Memasuki paruh kedua, sejumlah katalis positif berpeluang menjadi pembalik arah tren pergerakan saham BUMN. Selain potensi deeskalasi geopolitik yang bakal menstabilkan rupiah, keberhasilan proyek investasi Danantara dalam mencetak arus pendapatan baru diproyeksikan menjadi pendorong utama pasar.
Managing Partner BUMN Research Group LM FEB UI, Toto Pranoto, menambahkan bahwa prospek kinerja emiten pelat merah pada semester II/2026 juga ditopang oleh hasil dari program restrukturisasi korporasi BUMN.
Toto memandang bahwa emiten komoditas batu bara seperti ptba dan ANTM memiliki prospek yang solid. Langkah hilirisasi pertambangan dinilai memberikan nilai tambah signifikan di tengah tren tinggi harga komoditas.
Di sisi lain, jajaran bank Himbara diproyeksikan tetap menjadi mesin penggerak utama bagi kinerja kelompok perusahaan pelat merah, selama mampu menjaga konsistensi laju pertumbuhan kredit seperti pada semester pertama.
“Program restrukturisasi BUMN sebagian sudah memberikan hasil positif. Hilirisasi pertambangan memberikan dampak cukup besar di semester I dan kami berharap berlanjut di semester II,” pungkas Toto kepada Bisnis.
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



Source https://www.bisnis.com

Sivun kommentit