Tak Cocok Untuk Pembangkit, 80% Batu Bara RI Berkalori Rendah!

Admin Ugems
Minuuttiluku - Tue Jun 23 07:00:00 GMT 2026

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan sebagian besar produksi batu bara Indonesia saat ini didominasi batu bara berkalori rendah hingga menengah.
Sedangkan batu bara berkalori tinggi yang banyak dibutuhkan untuk kebutuhan tertentu, termasuk pencampuran bahan bakar pembangkit listrik, jumlahnya semakin sedikit.
Ia pun memerinci dari total produksi batu bara nasional hanya sekitar 20% yang memiliki nilai kalori menengah hingga tinggi, yakni berada pada rentang 5.800 hingga 6.300 kcal/kg. Sementara sekitar 80% sisanya merupakan batu bara dengan nilai kalori rendah.



"Tapi memang untuk menyangkut dengan sekarang kan yang batu bara itu kan yang high calorie itu kan semakin hari semakin sedikit. Dari total produksi batu bara kita 100%, itu yang medium yang 5.000 ke atas 5.800 sampai 6.300 itu tidak lebih dari 20%. 80%-nya itu yang medium ke bawah," kata Bahlil di Istana, Senin (22/6/2026).
Oleh sebab itu, pemerintah tengah menyiapkan langkah penyesuaian dan modifikasi dalam pengelolaan serta pemanfaatan batu bara agar pasokan energi tetap terjaga dan kebutuhan pembangkit listrik dapat terpenuhi.
"Nah, memang harus ada modifikasi. Nah modifikasi itu nanti kita akan atur secara baik ya," katanya.
Sebelumnya, Bahlil membeberkan persoalan yang menyebabkan pemadaman bergilir di beberapa daerah Pulau Jawa sejatinya bukan terkait volume pasokan, namun ketersediaan batu bara kalori medium yang dibutuhkan PLN untuk proses pencampuran (blending) bahan bakar PLTU.
"Ternyata yang PLN keluhkan itu atau PLN minta itu adalah kalori yang medium untuk blending. Nah, sudah kita pastikan bahwa sudah tidak ada masalah dan kita pemerintah sudah membantu PLN untuk bisa menjalankan," ujar Bahlil.
Ia lantas memerinci bahwa kebutuhan batu bara PLN mencapai sekitar 154 juta ton per tahun. Sementara itu, penugasan pasokan batu bara domestik (DMO) dari Kementerian ESDM kepada perusahaan tambang mencapai sekitar 180 hingga 190 juta ton per tahun.
"Yang sudah dikontrak oleh PLN 134 juta ton. Sebenarnya secara kontrak dengan PLN dengan pengusaha 134 juta untuk satu tahun. Sekarang kan baru bulan 6. Itu harusnya no issue," kata Bahlil.

(pgr/pgr)



Source https://www.cnbcindonesia.com

Sivun kommentit