Adu Prospek Saham Grup Bakrie Semester II/2026: BUMI, DEWA hingga VKTR

Admin Ugems
読了時間: 2 分 - Wed Aug 19 07:03:00 GMT 2026

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah emiten Grup Bakrie menghadapi katalis yang berbeda pada semester II/2026. BUMI dan ENRG masih menjadi penopang fundamental, DEWA diuntungkan aktivitas pertambangan, sementara VKTR dinilai memiliki peluang menjadi mesin pertumbuhan baru.
Perbedaan prospek tersebut tidak terlepas dari karakter bisnis masing-masing emiten serta perkembangan sektor yang digeluti. Kinerja semester I/2026 menjadi salah satu pijakan untuk melihat arah bisnis Grup Bakrie pada paruh kedua tahun ini.
Direktur Purwanto Asset Management Edwin Sebayang mengatakan melihat kinerja Grup Bakrie, ENRG dan BUMI masih menjadi tulang punggung fundamental, DEWA menjadi beneficiary dari aktivitas pertambangan, sementara VKTR adalah kandidat mesin pertumbuhan baru yang paling menarik untuk jangka menengah.
“BRMS memiliki potensi upside terbesar apabila pemulihan produksinya berjalan sesuai target,” kata Edwin, Selasa (18/8/2026).

Dia menuturkan fundamental masing-masing emiten Grup Bakrie saat ini semakin berbeda, sehingga investor sebaiknya menilai berdasarkan cash flow, volume produksi, margin, leverage dan katalis operasional masing-masing perusahaan, bukan hanya berdasarkan sentimen Bakrie Group secara keseluruhan.
“Untuk saya pribadi, ENRG–BUMI merupakan kombinasi paling kuat untuk fundamental saat ini, sedangkan VKTR merupakan cerita pertumbuhan yang paling menarik untuk horizon lebih panjang,” ucapnya.
BUMI dan ENRG Jadi Andalan
BUMI dan ENRG menjadi dua emiten Grup Bakrie yang mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba bersih pada semester I/2026.
Berdasarkan laporan keuangan semester I/2026, pendapatan BUMI mencapai US$866,75 juta, naik 27,85% dibandingkan dengan US$677,93 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan pendapatan tersebut turut mendorong laba bersih BUMI hingga US$58,85 juta. Capaian tersebut melonjak 188,4% dari US$20,41 juta pada semester I/2025.
Sementara itu, ENRG juga mencatat pertumbuhan kinerja pada semester I/2026. Pendapatan perseroan naik 18,51% menjadi US$283,37 juta dari US$239,11 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba bersih ENRG turut tumbuh 26,62% menjadi US$45,23 juta dari US$35,73 juta.
Edwin menilai posisi BUMI dan ENRG masih kuat karena keduanya memiliki eksposur terhadap sektor sumber daya alam yang menjadi salah satu basis utama bisnis Grup Bakrie.
Dia melanjutkan Grup Bakrie tidak lagi hanya bisa dilihat sebagai commodity play. Portofolio Grup Bakrie mulai bergerak menuju kombinasi mining, oil & gas, infrastructure, EV dan industrial technology.
Namun, lanjutnya, pasar tetap perlu melihat konsistensi eksekusi beberapa kuartal ke depan sebelum transformasi tersebut dapat dikatakan benar-benar berhasil.
DEWA Jadi Beneficiary Tambang
Selain BUMI dan ENRG, PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) juga menjadi salah satu emiten yang dinilai memiliki katalis dari aktivitas pertambangan.
Pada semester I/2026, pendapatan DEWA naik 3,13% menjadi Rp3,21 triliun. Sementara itu, laba bersih perseroan melonjak 89,01% menjadi Rp354,28 miliar dari Rp187,44 miliar pada semester I/2025.
Kinerja tersebut menunjukkan pertumbuhan laba DEWA jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pendapatannya.
Edwin menempatkan DEWA sebagai beneficiary dari aktivitas pertambangan. Dengan demikian, perkembangan aktivitas dan volume produksi tambang menjadi salah satu faktor yang akan menentukan kinerja perseroan pada semester II/2026.
Prospek DEWA juga akan berkaitan dengan keberlanjutan aktivitas pertambangan serta kemampuan perseroan mempertahankan pertumbuhan laba.
VKTR Jadi Kandidat Mesin Pertumbuhan
Sementara itu, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR) menawarkan cerita yang berbeda dibandingkan emiten berbasis komoditas di Grup Bakrie.
Edwin menilai VKTR merupakan kandidat mesin pertumbuhan baru yang paling menarik untuk jangka menengah. Penilaian tersebut muncul di tengah pertumbuhan pendapatan perseroan yang cukup tinggi pada semester I/2026.
Pendapatan VKTR tumbuh 56,18% menjadi Rp646,62 miliar dari Rp414,04 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut belum diikuti dengan peningkatan laba. Laba bersih VKTR justru merosot 76,23% menjadi Rp1,13 miliar dari Rp4,73 miliar.
Kondisi tersebut membuat kinerja VKTR masih menghadapi tantangan dari sisi profitabilitas. Meski demikian, perseroan dinilai memiliki cerita pertumbuhan yang berbeda karena bergerak di sektor kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).
Edwin sebelumnya mengatakan Grup Bakrie mulai bergerak menuju kombinasi bisnis mining, oil & gas, infrastructure, EV dan industrial technology.
Namun, dia mengingatkan konsistensi eksekusi tetap menjadi faktor penting sebelum transformasi bisnis tersebut dapat dinilai berhasil.
BRMS Tunggu Pemulihan Produksi
PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) menjadi emiten lain yang memiliki katalis berbeda pada semester II/2026.
Pada semester I/2026, pendapatan BRMS turun 20,73% menjadi US$95,79 juta dari US$120,85 juta. Penurunan pendapatan tersebut diikuti dengan penurunan laba bersih sebesar 43,74% menjadi US$12,92 juta dari US$22,97 juta.
Meski mencatatkan tekanan kinerja, Edwin melihat BRMS memiliki potensi upside terbesar apabila pemulihan produksi berjalan sesuai target.
Sementara itu, Elandry menuturkan untuk semester II/2026, emiten seperti BUMI dan BRMS menarik dicermati dari sisi eksposur komoditas, sementara sektor infrastruktur dan properti juga berpotensi mendapat katalis dari belanja pemerintah dan perbaikan aktivitas ekonomi.



Source https://www.bisnis.com

ページコメント