Perang Iran Picu Kiamat Baru, Harga Baju H&M-Zara Cs Bakal Meledak?

Admin Ugems
読了時間: 2 分 - Sat Apr 25 01:00:00 GMT 2026

Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan harga bahan bakar fosil sejak pecahnya perang Iran mulai mencekik para pemasok poliester dan produsen pakaian di seluruh India serta Bangladesh, yang mengancam kenaikan biaya bagi ritel pakaian cepat saji global seperti Zara dan H&M pada Jumat, (24/04/2026).
Filatex yang merupakan salah satu produsen benang poliester terbesar di India harus membayar hampir 30% lebih mahal untuk bahan baku turunan minyak bumi seperti purified terephthalic acid (PTA) dan monoethylene glycol (MEG) akibat pemasok China menaikkan harga dan pasokan Timur Tengah terganggu.
Mengutip Reuters, Managing Director Filatex, Madhu Sudhan Bhageria menjelaskan situasi tersebut dalam keterangannya.

"Kami membayar hampir 30% lebih mahal untuk bahan baku turunan minyak bumi karena pemasok China menaikkan harga dan pasokan dari Timur Tengah terganggu," ujar Bhageria.
Tekanan ini dirasakan di seluruh rantai pasok pakaian yang didominasi oleh pasar Asia. CEO Bindal Silk Mills, Avichal Arya, yang memasok kain poliester untuk H&M, Inditex (induk Zara), Target, Walmart, hingga IKEA, mengatakan bahwa krisis energi telah mendorong biaya bahan kimia dan pewarna secara drastis.
"krisis energi telah mendorong biaya bahan kimia dan pewarna secara drastis. Kami bahkan tidak mampu memenuhi permintaan pesanan global dengan sangat baik akhir-akhir ini karena kekurangan gas memasak akibat perang yang membuat banyak pekerja migran meninggalkan Surat," kata Arya.
Poliester yang terbuat dari turunan minyak mendominasi industri tekstil dengan porsi 59% dari produksi serat global dan digunakan dalam segala hal mulai dari celana pendek lari hingga gaun. Produk ini terpapar langsung oleh pengetatan produk minyak bumi olahan yang disebabkan oleh penutupan Selat Hormuz.
Tekanan harga ini diperkirakan akan bergeser ke hilir menuju peritel, meskipun saat ini mereka masih terlindungi oleh pembelian kontrak di muka. CEO Associated British Foods yang merupakan induk perusahaan Primark, George Weston, mengatakan stok musim semi dan musim gugur saat ini belum terdampak.
"Jika kami membeli bahan baku terkait energi hari ini, kami akan melihat inflasi yang signifikan, hanya saja saat ini kami belum melakukannya. Mungkin ketika kami harus kembali ke pasar harganya sudah turun, tapi kami tidak tahu," tutur Weston.
Sementara itu, pihak H&M dalam pernyataan resminya mengaku tidak melihat gangguan produksi besar di Bangladesh dan belum mengamati adanya permintaan penyesuaian pesanan dari pemasok terkait biaya energi. Namun, seorang sumber industri menyebut H&M memperkirakan adanya kenaikan harga dari pemasok Bangladesh dalam beberapa minggu ke depan.
Di Surat, India, separuh dari 200 alat tenun industri di Radheshyam Textile yang menenun poliester telah berhenti beroperasi sejak konflik dimulai pada akhir Februari. Pemilik Radheshyam Textile, Kaushik Dudhat, mengaku telah berhenti membeli benang poliester baru karena harganya yang melonjak tajam.
"Produksi harian kami adalah 10.000 meter per hari sebelum perang dimulai, tetapi kini turun menjadi 3.500 hingga 4.000 meter per hari. Kenaikan harga yang tajam akan memaksa saya menaikkan harga sendiri sekitar 15%, sebuah kenaikan yang tidak akan diterima oleh pelanggan saya yang mayoritas pedagang pakaian," jelas Dudhat.
Presiden Federasi Asosiasi Pedagang Tekstil Surat, Kailash Hakim, memperingatkan bahwa pabrik pencelupan dan pencetakan tekstil di Surat kini tutup dua hari seminggu dari yang sebelumnya hanya satu hari. Jika situasi berlanjut, kekurangan bahan baku akan terjadi dan pabrik-pabrik harus ditutup total.
Di Bangladesh, meskipun pabrik sebagian besar membuat pakaian berbahan dasar kapas, mereka menghadapi kenaikan harga benang jahit poliester dan biaya logistik. Presiden Asosiasi Produsen dan Eksportir Pakaian Rajut Bangladesh, Mohammad Hatem, menyatakan pembeli kini menjadi lebih berhati-hati.
"Pembeli menjadi lebih berhati-hati dan menghitung risiko dengan cermat sebelum menempatkan pesanan, yang dapat memengaruhi volume pesanan," ungkap Hatem.
Analis utama serat di Wood Mackenzie, Bruna Angel, menilai jika kondisi ini berlangsung satu bulan lagi, maka industri akan menghadapi apa yang disebut sebagai kehancuran permintaan. Peritel akan dipaksa menaikkan harga dan konsumen akan memangkas pembelian mereka.
Dampak ini juga mulai merambat ke industri alas kaki karena material turunan petrokimia seperti ethylene-vinyl acetate (EVA) banyak digunakan dalam sepatu kets. Presiden Footwear Distributors and Retailers of America, Matt Priest, menyebut ada dampak luas di seluruh lini produk sepatu.
"Ada dampak luas di seluruh lini, tidak peduli dari mana Anda mendapatkan sepatu Anda. Material terkait minyak memang berdampak pada biaya produk," tegas Priest.
Menanggapi hal ini, juru bicara Nike mengonfirmasi bahwa material yang berhubungan dengan minyak memang memberikan dampak langsung pada biaya produksi mereka. Hingga berita ini diturunkan, Inditex menolak berkomentar, sementara Target, Walmart, dan IKEA belum memberikan respons.



(luc/luc)



Source https://www.cnbcindonesia.com

ページコメント