Daftar 47 Saham HSC di BEI Selengkapnya, 1 Emiten Berhasil Lolos

Admin Ugems
4 minuten lezen - Wed Jul 15 01:00:00 GMT 2026

Bisnis.com, JAKARTA — Bursa Efek Indonesia (BEI) memperbarui daftar saham dengan status High Shareholding Concentration (HSC) atau kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi.
Hingga pertengahan Juli 2026, tercatat 47 emiten masuk dalam daftar HSC dengan tingkat kepemilikan yang dikuasai oleh sejumlah pemegang saham mencapai lebih dari 90%. Adapun, 1 emiten berhasil lolos dari daftar tersebut.
Sebanyak 33 emiten memperoleh status HSC pada Selasa (14/7/2026) berdasarkan struktur kepemilikan saham per 30 Juni 2026. Sisanya merupakan emiten yang telah lebih dahulu ditetapkan berstatus HSC sejak April hingga awal Juli 2026 dan masih tercantum dalam daftar terbaru.
Dalam daftar tersebut, PT Maha Properti Indonesia Tbk. (MPRO) menjadi emiten dengan tingkat konsentrasi kepemilikan tertinggi, yakni mencapai 99,99%.

Posisi berikutnya ditempati PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) dengan 99,96%, PT Krom Bank Indonesia Tbk. (BBSI) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk. (PGUN) masing-masing 99,95%, serta PT Golden Flower Tbk. (POLU) sebesar 99,94%.
Selain itu, sejumlah emiten besar juga masih masuk dalam daftar HSC, di antaranya PT Bank Permata Tbk. (BNLI) dengan kepemilikan terkonsentrasi 99,92%, PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk. (YUPI) 99,91%.
Selanjutnya, PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk. (PRAY) 99,84%, PT Bank SMBC Indonesia Tbk. (BTPN) 99,78%, PT FAP Agri Tbk. (FAPA) 99,77%, PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk. (LIFE) 99,21%, serta PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII) sebesar 99,14%.
Daftar HSC kali ini juga diwarnai oleh sejumlah emiten dengan kapitalisasi pasar besar, seperti PT Global Digital Niaga Tbk. (BELI) dengan konsentrasi kepemilikan 93,83%, PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) sebesar 98,50%, PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) 97,31%, hingga PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) sebesar 96,70%.
Sejumlah emiten dalam daftar tersebut berasal dari kelompok usaha yang sama. Dari Grup Sinar Mas, terdapat PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk. (SMAR) dengan kepemilikan terkonsentrasi 99,58%, PT Golden energy mines Tbk. (GEMS) sebesar 99,24%, PT Ekamas Mora Republik Tbk. (MORA) sebesar 95,65%, serta PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) sebesar 95,76%.
Sementara itu, Grup Mayapada memiliki dua emiten dalam daftar HSC, yakni PT Maha Properti Indonesia Tbk. (MPRO) dengan tingkat konsentrasi kepemilikan mencapai 99,99% dan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk. (SRAJ) sebesar 97,21%.
BEI menjelaskan bahwa penetapan status HSC dilakukan berdasarkan metodologi penghitungan struktur kepemilikan saham. Pengumuman tersebut bertujuan memberikan transparansi kepada investor mengenai tingkat konsentrasi kepemilikan suatu saham dan tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap ketentuan di bidang pasar modal.
Sementara itu, PT Lima Dua Lima Tiga Tbk. (LUCY) masuk HSC dengan porsi 95,47% pada 2 April 2026. Namun, dalam pengumuman 2 Juli 2026, BEI menyatakan perseroan tidak lagi berada dalam kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi.
Data Saham yang Ditetapkan HSC pada 14 Juli 2026

PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII) — 99,14%
PT Prima Andalan Mandiri Tbk. (MCOL) — 98,62%
PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk. (LIFE) — 99,21%
PT Golden Flower Tbk. (POLU) — 99,94%
PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk. (ELPI) — 98,90%
PT MD Entertainment Tbk. (FILM) — 92,98%
PT Hoffmen Cleanindo Tbk. (KING) — 98,40%
PT Ancara Logistics Indonesia Tbk. (ALII) — 97,62%
PT Hotel Fitra International Tbk. (FITT) — 95,00%
PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk. (YUPI) — 99,91%
PT Perdana Bangun Pusaka Tbk. (KONI) — 95,08%
PT Metropolitan Kentjana Tbk. (MKPI) — 97,02%
PT Cemindo Gemilang Tbk. (CMNT) — 99,41%
PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk. (SMAR) — 99,58%
PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk. (PRAY) — 99,84%
PT Maha Properti Indonesia Tbk. (MPRO) — 99,99%
PT Global Digital Niaga Tbk. (BELI) — 93,83%
PT Golden energy mines Tbk. (GEMS) — 99,24%
PT Multipolar Technology Tbk. (MLPT) — 99,42%
PT Siantar Top Tbk. (STTP) — 94,95%
PT Bank SMBC Indonesia Tbk. (BTPN) — 99,78%
PT Krom Bank Indonesia Tbk. (BBSI) — 99,95%
PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) — 96,70%
PT FAP Agri Tbk. (FAPA) — 99,77%
PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk. (RISE) — 98,03%
PT Soho Global Health Tbk. (SOHO) — 99,93%
PT Pradiksi Gunatama Tbk. (PGUN) — 99,95%
PT Bank Permata Tbk. (BNLI) — 99,92%
PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk. (SRAJ) — 97,21%
PT Ekamas Mora Republik Tbk. (MORA) — 95,65%
PT Indoritel Makmur Internasional Tbk. (DNET) — 98,06%
PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) — 98,50%
PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) — 99,96%

Daftar Emiten yang Berstatus HSC dari Penetapan Sebelumnya

PT Habco Trans Maritima Tbk. (HATM) — 96,09% (penetapan 1 Juli 2026)
PT Delta Giri Wacana Tbk. (DGWG) — 97,35% (30 Juni 2026)
PT Kota Satu Properti Tbk. (SATU) — 94,27% (4 Juni 2026)
PT Mahkota Group Tbk. (MGRO) — 93,76% (29 Mei 2026)
PT Transcoal Pacific Tbk. (TCPI) — 94,10% (29 Mei 2026)
PT BSA Logistics Indonesia Tbk. (WBSA) — 95,82% (8 Mei 2026)
PT Satria Mega Kencana Tbk. (SOTS) — 98,35% (2 April 2026)
PT Rockfields Properti Indonesia Tbk. (ROCK) — 99,85% (2 April 2026)
PT Abadi Lestari Indonesia Tbk. (RLCO) — 95,35% (2 April 2026)
PT Panca Anugrah Wisesa Tbk. (MGLV) — 95,94% (2 April 2026)
PT Lima Dua Lima Tiga Tbk. (LUCY) — 95,47% (2 April 2026, sudah dicabut per 2 Juli 2026)
PT Ifishdeco Tbk. (IFSH) — 99,77% (2 April 2026)
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) — 95,76% (2 April 2026)
PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) — 97,31% (2 April 2026)
PT Samator Indo Gas Tbk. (AGII) — 97,75% (2 April 2026)


Kriteria HSC
Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan tambahan kriteria penilaian saham yang masuk ke high shareholding concentration (HSC) alias saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi pada Selasa (14/7/2026).
Kriteria tambahan itu adalah price-impact ratio atas seluruh saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan penambahan price-impact ratio menjadi salah satu kriteria penyaringan saham HSC merupakan bagian dari komitmen bursa menjalankan agenda reformasi pasar modal. Rasio tersebut diterapkan untuk seluruh saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun.
Menurut Jeffrey, price-impact ratio dihitung dengan melihat perubahan harga saham terhadap velocity atau kecepatan peredaran saham. Sementara itu, velocity diperoleh dari rata-rata volume transaksi dibandingkan dengan jumlah saham yang beredar di publik (free float).
"Itu adalah motif utamanya. Tentu kami juga menyampaikan bahwa kami melakukan diskusi dan komunikasi secara intens dengan seluruh stakeholders untuk mendapatkan masukan," kata Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Selasa (14/7/2026).
Dia menegaskan saham dengan price-impact ratio tinggi tidak otomatis masuk daftar HSC. Rasio tersebut hanya digunakan sebagai tahapan awal (screening) sebelum BEI melakukan penilaian lebih lanjut terhadap struktur kepemilikan saham emiten.
Sebagaimana diketahui, saham yang masuk daftar HSC tidak dapat menjadi konstituen indeks utama BEI seperti LQ45, IDX30, dan IDX80. Selain itu, saham dengan status HSC juga tidak memenuhi kriteria sejumlah penyedia indeks global, termasuk MSCI, sehingga berpotensi memengaruhi aliran dana investasi pasif.
Meski demikian, Jeffrey menegaskan kebijakan tersebut merupakan praktik yang mengacu pada standar internasional. Menurutnya, ketentuan mengenai HSC memang hanya diterapkan di Hong Kong dan Indonesia, sedangkan metodologi price-impact ratio telah lama digunakan oleh berbagai penyedia indeks global.
"Seperti yang sudah kami sampaikan tadi, utamanya motivasinya adalah untuk kami secara konsisten melakukan upaya terus-menerus terhadap reformasi di pasar modal. Kami berharap apa yang kami lakukan ini juga akan diapresiasi oleh seluruh stakeholders, termasuk di antaranya adalah index provider," ujarnya.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



Source https://www.bisnis.com

Paginareacties