MITI Ekspansi Tambang Silika, DEWA Buka Peluang Kontrak Baru, dan AALI Bagi Dividen

Admin Ugems
2 perces olvasmány - Thu Oct 01 07:00:00 GMT 2026

Jakarta -

Market OverviewPerdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (30/9) berakhir dalam tekanan. IHSG turun 0,83% ke level 6.071,14. Sejumlah saham menjadi penopang pergerakan indeks, di antaranya UNTR yang naik 7,55%, MORA menguat 1,99%, dan EMAS bertambah 2,32%.Di sisi lain, GOTO menjadi salah satu saham yang mencatat penurunan terbesar dengan koreksi 13,51%. Saham TLKM turun 3,38%, sementara BBCA melemah 1,22%. Aktivitas investor asing juga masih mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp1,56 triliun di pasar reguler dan Rp1,61 triliun jika dihitung di seluruh pasar.Tekanan terjadi di sebagian besar sektor saham. Sebanyak delapan dari 11 sektor berakhir melemah. Sektor teknologi menjadi yang terkoreksi paling dalam, yakni 2,76%. Sementara sektor industri menjadi salah satu sektor yang masih mencatat penguatan dengan kenaikan 1,17%.
Bursa saham Amerika Serikat (AS) bergerak beragam pada perdagangan terakhir. Dow Jones turun 0,86% ke level 50.906, S&P 500 terkoreksi 0,25% ke 7.651, sedangkan Nasdaq naik 0,24% ke level 26.861.Pelaku pasar juga mencermati mulai berlakunya aktivitas short selling pada 1 Oktober. Saham yang masuk dalam daftar tersebut antara lain ASII, BBCA, BRPT, BUMI, dan INDF. Aktivitas tersebut dapat menambah dinamika perdagangan dan pergerakan harga saham. Sementara itu, ETF EIDO turun 0,85% dan indeks MSCI Indonesia melemah 1,12%.Berita Emiten1. PT Mitra Investindo Tbk (MITI)MITI menjalin kerja sama dengan PT CNEC Engineering Indonesia (CNEC INA) untuk mengembangkan tiga konsesi tambang pasir silika milik anak usahanya.Kerja sama tersebut dituangkan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pada 29 September 2026. CNEC INA merupakan anak usaha dari China Nuclear Engineering & Construction Corporation, perusahaan milik negara China.Dalam kerja sama ini, pengembangan konsesi akan mencakup sejumlah tahapan, mulai dari eksplorasi, studi kelayakan, hingga rekayasa teknis. Kemitraan tersebut juga mencakup peluang dukungan pendanaan untuk mengembangkan konsesi pasir silika MITI yang selama ini belum beroperasi.Pengembangan tambang silika tersebut sejalan dengan agenda hilirisasi pasir silika di Indonesia. Berdasarkan data yang menjadi dasar pengembangan industri tersebut, Indonesia memiliki cadangan pasir silika sekitar 7,80 miliar ton.Rantai hilirisasi pasir silika juga diarahkan menuju industri panel surya. Salah satu tahap pengolahannya adalah menghasilkan wafer silikon solar-grade yang menjadi bahan dasar sel surya. Proses pengolahan hingga tahap tersebut disebut berpotensi meningkatkan nilai tambah material hingga sekitar 1.300 kali lipat.2. PT Darma Henwa Tbk (DEWA) DEWA melihat peluang untuk memperoleh kontrak baru di luar proyek yang saat ini dikerjakan perseroan. Peluang tersebut ditopang oleh kapasitas operasional berskala besar, ketersediaan armada, kemampuan teknis, serta akses pendanaan.Hal ini menjadi perhatian setelah pemerintah menerbitkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 365.K/2026. Aturan tersebut mengatur pembatasan penggunaan anak usaha dan afiliasi dari pemegang Izin Usaha Jasa Pertambangan (IUJP) di sektor mineral dan batu bara.Bagi DEWA, ketentuan tersebut disebut tidak memberikan dampak material terhadap kegiatan perseroan. DEWA masih dapat melakukan penyesuaian terhadap struktur perizinan dan operasional untuk menyesuaikan dengan ketentuan tersebut.DEWA sendiri merupakan kontraktor independen bagi Kaltim Prima Coal (KPC) dan Arutmin Indonesia. Keterlibatan perseroan dalam kegiatan tersebut telah dilaporkan dan mendapatkan persetujuan dari Kementerian ESDM melalui RKAB tahunan.KPC dan Arutmin Indonesia juga terlibat dalam proyek strategis nasional gasifikasi batu bara melalui Bumi Etam Chemical. Selain itu, keduanya mendapatkan penugasan domestic market obligation (DMO) dengan total pasokan mencapai 22,30 juta ton.Jumlah tersebut setara sekitar 30% dari penjualan batu bara domestik pada 2025 atau sekitar 9% dari kebutuhan nasional. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang memungkinkan kegiatan operasional DEWA masuk dalam pengecualian terhadap pembatasan yang diatur dalam ketentuan tersebut.3. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI)AALI menetapkan pembagian dividen tunai interim untuk tahun buku 2026 sebesar Rp233 per saham. Total dividen yang akan dibagikan mencapai sekitar Rp449,02 miliar.Besaran dividen interim per saham tersebut menjadi yang tertinggi yang ditetapkan AALI sejak 2018. Keputusan pembagian dividen dilakukan setelah perseroan mencatatkan pertumbuhan laba bersih pada semester I 2026.AALI membukukan laba bersih Rp1,10 triliun pada paruh pertama 2026, meningkat 56,51% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp702,12 miliar. Pada periode tersebut, perseroan juga memiliki saldo laba ditahan yang belum ditentukan penggunaannya sebesar Rp19 triliun.Dengan laba bersih semester I 2026 tersebut, dividen interim Rp233 per saham mencerminkan dividend payout ratio (DPR) sebesar 40,86%.Sementara itu, pada perdagangan 30 September 2026, saham AALI ditutup di level Rp8.000 per saham. Dengan menggunakan harga penutupan tersebut, dividen interim Rp233 per saham setara dengan dividend yield sekitar 2,91%.Untuk jadwal pembagiannya, cum date dividen AALI di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 8 Oktober 2026. Adapun pembayaran dividen dijadwalkan berlangsung pada 26 Oktober 2026.Rekomendasi Saham Hari IniINKP - Buy 8150-8200 | TP 8300-8450 | SL 7800POWR - Buy 935-945 | TP 960-970 | SL 890BDMN - Buy 4420-4440 | TP 4480-4520 | SL 4200DMAS - Buy 184-186 | TP 188-192 | SL 175BIPI - Buy 130-132 | TP 135-139 | SL 123Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.
(ang/ang)



Source https://finance.detik.com

Hozzászólások az oldalhoz