Pilah-pilih Saham Pelat Merah Masih Diskon, dari Tambang PTBA hingga Himbara BMRI

Admin Ugems
2 Minute Read - Mon Jun 22 01:00:00 GMT 2026

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja saham-saham emiten BUMN dalam IDX BUMN 20 sepanjang tahun berjalan menunjukkan kinerja outperform dibandingkan dengan benchmark IHSG maupun blue chips di LQ45.
Saat semua indeks secara year to date (YtD) terpangkas, koreksi IDX BUMN20 menjadi yang paling kecil.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per Jumat (19/6/2026), indeks saham BUMN secara YtD terkoreksi hanya 17,28%, lebih rendah dibandingkan dengan IHSG yang ambles 28,56% YtD maupun LQ45 yang terkontraksi 28,02% YtD.
Adapun, faktor yang menjadi katalis ialah status pelat merah dianggap menjadi nilai tambah bagi saham emiten perusahaan negara. Di sektor pertambangan misalnya, ptba dinilai memiliki posisi strategis ketika kebijakan ekspor satu pintu berisiko menghambat margin emiten batu bara. Sebagai BUMN, ptba dirasa punya perlindungan alami terhadap buyer resistance risk yang timbul dari kebijakan baru ekspor satu pintu.


Selain ptba, ada pula ANTM yang memiliki growth story baru berupa penugasan khusus pemerintah untuk mengembangkan ekosistem baterai terintegrasi nikel dari hulu ke hilir.
Sementara di sektor perbankan, PT Danantara Indonesia bersiap melakukan buyback saham-saham Himbara yang telah undervalued. Sedangkan di sektor konstruksi, BP BUMN menargetkan merger BUMN Karya akan rampung tahun ini. Perampingan usaha dinilai akan memperbaiki kondisi keuangan di tubuh emiten konstruksi pelat merah dalam jangka panjang.
"Faktor-faktor tersebut membuat investor melihat saham BUMN memiliki downside risk yang lebih terbatas dibanding pasar secara umum," kata Senior Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas kepada Bisnis, dikutip Jumat (19/6/2026).
Selain itu, Sukarno menilai outperform-nya IDX BUMN 20 juga ditopang oleh kombinasi valuasi yang sudah murah, dukungan kebijakan pemerintah, serta munculnya berbagai katalis korporasi pada emiten BUMN.
Bila dibedah, menurutnya pendorong utama penguatan indeks berasal dari sektor perbankan, pertambangan, dan telekomunikasi. Saham perbankan BUMN mendapat dukungan dari ekspektasi buyback dan pemulihan kualitas aset, sedangkan di sektor pertambangan, ptba dan ANTM diuntungkan oleh prospek komoditas dan program hilirisasi nasional.
"Sementara itu, sektor telekomunikasi melalui TLKM mulai menarik perhatian seiring perbaikan profitabilitas industri dan potensi peningkatan shareholder return," jelasnya.
Untuk rekomendasi, sejumlah nama yang direkomendasikan buy Kiwoom Sekuritas Indonesia adalah TLKM dengan target harga Rp3.630, MTEL Rp705, JSMR Rp3.850, ANTM Rp4.800, BBRI Rp3.500, BBNI Rp4.400, BMRI Rp5.300, serta PGEO dengan target harga di Rp1.100.
Sementara itu, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menjelaskan bahwa satu pendorong utama mengapa kinerja IDX BUMN 20 mampu outperform dibandingkan IHSG adalah besarnya bobot sektor perbankan di dalam indeks tersebut.
"Saham-saham perbankan BUMN, khususnya BMRI, BBRI, dan BBNI, mencatatkan penguatan yang cukup signifikan setelah jajaran direksi bank-bank Himbara dipanggil oleh Danantara. Pasar menilai pertemuan tersebut sebagai sinyal positif bahwa pemerintah dan Danantara memiliki komitmen untuk menjaga kinerja serta meningkatkan nilai perusahaan-perusahaan BUMN yang saat ini diperdagangkan pada valuasi yang relatif murah," kata Imam.
Selain itu, sentimen positif semakin kuat dengan munculnya rencana Danantara untuk melakukan buyback pada saham-saham Himbara yang dinilai undervalued. Rencana tersebut dipersepsikan oleh investor sebagai bentuk dukungan terhadap stabilitas harga saham sekaligus menunjukkan keyakinan pemegang saham pengendali terhadap prospek jangka panjang sektor perbankan BUMN.
Faktor lainnya, kondisi global yang lebih kondusif menurut Imam juga turut membantu penguatan saham-saham BUMN. Meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran mendorong peningkatan minat investor terhadap aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di saat yang sama, sambung dia, penguatan nilai tukar rupiah memberikan sentimen tambahan bagi pasar karena berpotensi mengurangi tekanan terhadap arus modal dan meningkatkan kepercayaan investor asing terhadap pasar keuangan domestik.

Menilik masing-masing katalis di tiap sektor emiten pelat merah, Imam menjelaskan bahwa dari sektor komoditas, sentimen positif datang setelah adanya klarifikasi terkait kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Penjelasan bahwa implementasi kebijakan tersebut akan dilakukan secara bertahap berhasil meredakan kekhawatiran pasar mengenai potensi gangguan terhadap kontrak penjualan maupun margin perusahaan batu bara.
"Kondisi ini memberikan ruang bagi saham-saham BUMN sektor pertambangan, khususnya ptba, untuk kembali mendapatkan perhatian investor," jelasnya.
Imam menegaskan, bahwa secara keseluruhan penguatan IDX BUMN 20 saat ini ditopang oleh sektor perbankan sebagai kontributor terbesar indeks, sementara sektor pertambangan dan sektor BUMN lainnya turut memberikan dukungan melalui berbagai katalis kebijakan yang dinilai positif oleh pasar.
"Untuk rekomendasi saham BUMN, kami merekomendasikan buy PGEO di rentang Rp850-Rp885, dengan target harga Rp970 dan stop loss di bawah Rp830," pungkasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



Source https://www.bisnis.com

Page Comments