Rutin Dapat Dividen Jumbo, Kok Low Tuck Kwong Lepas BYAN ke Haji Isam?

Admin Ugems
2 Minute Read - Mon Sep 21 07:00:00 GMT 2026

Daftar Isi










Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana pengalihan 10 miliar saham PT bayan resources Tbk (BYAN) kepada Haji Isam menyorot kembali sosok pendiri sekaligus pengendali perseroan, Low Tuck Kwong. Akuisisi yang dikabarkan dilakukan di bawah harga pasar menjadi salah satu pertanyaan besar, mengingat Low ternyata sudah menikmati aliran dividen jumbo dari BYAN yang tak pernah putus sejak 2018.
Berdasarkan hitungan CNBC Indonesia, dalam sembilan tahun terakhir Low Tuck Kwong menerima total sekitar Rp47,76 triliun dividen dalam 12 kali pembayaran, sejak ex-dividen 8 Juni 2018 hingga 22 Juni 2026. Anaknya, Elaine Low, yang tercatat memperoleh hibah saham dari Low Tuck Kwong pada 28 Agustus 2024 kebagian sekitar Rp4,45 triliun dari tiga pembayaran terakhir.




Secara keseluruhan, keduanya mengantongi sekitar Rp52,21 triliun sejak tahun 2018.


Dividen terbesar yang diterima Low jatuh pada 2022, yakni Rp18,42 triliun dari dua kali pembayaran: dividen tahunan Mei sebesar Rp8,90 triliun dan dividen interim Desember sebesar Rp9,52 triliun. Sepanjang 2022-2023, Low mengantongi Rp30,35 triliun, atau sekitar 64% dari total dividen yang ia terima sejak 2018.
Sebaliknya, dividen terkecil tercatat pada 2020, yakni Rp0,53 triliun dengan DPS Rp29,51.


Dari sisi DPS, dividen per saham BYAN pada 2026 naik sekitar 4,2 kali lipat dibandingkan 2018 (Rp63,41 menjadi Rp267,29).
Angka itu masih jauh di bawah puncaknya pada Desember 2022 yang mencapai Rp468,24. Karena itu, dividen yang diterima Low pada 2026 turun sekitar 80% dari puncak 2022.

Porsi Saham Bergeser, Elaine Low Masuk
Penurunan dividen Low sejak 2024 juga dipengaruhi perubahan struktur kepemilikan. Konglomerat Dato' Low Tuck Kwong diketahui telah mengalihkan atau menghibahkan sebagian saham-sahamnya di perusahaannya PT bayan resources Tbk. (BYAN) kepada anaknya yang bernama Elaine Low.

Pengalihan saham Low Tuck Kwong pada anaknya melalui transaksi negosiasi pada Rabu (28/8/2024) sebesar Rp 101,8 triliun, dengan harga per saham ditetapkan Rp13.888, atau di bawah harga pasar. Total volume transaksi mencapai 7,33 miliar lembar saham. Namun, jika mengacu pada harga pasar kala itu, hibah saham ini nilainya mencapai Rp 122 triliun.
Pada posisi 30 September 2024, saham Low turun dari 20,71 miliar menjadi 13,39 miliar lembar, sementara Elaine Low tercatat memegang 7,33 miliar lembar. Kepemilikan gabungan keduanya relatif tidak berubah, yakni sekitar 62%.

Transaksi ratusan triliun di saham BYAN ini juga menjadikan salah satu transaksi terbesar yang pernah terjadi di pasar negosiasi dalam sehari."Transaksi ini dilatarbelakangi hubungan keluarga antara orang tua dengan anak, dimana pemegang saham utama dan pengendali Perseroan yaitu Dato' Low Tuck Kwong sebagai Ayah berkeinginan untuk mengalihkan (menghibahkan) sebagian saham-sahamnya kepada anaknya yang bernama Elaine Low," tulis manajemen kala itu.
Haji Isam Masuk
Meski rutin memperoleh aliran dividen jumbo, Low Tuck Kwong baru-baru ini menandatangani Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat dengan PT Jhonlin Baratama, bagian dari Jhonlin Group milik Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, pada 16 September 2026. Perjanjian mencakup 10.000.000.500 saham biasa BYAN, setara sekitar 30% dari total saham beredar. Transaksi belum rampung karena masih bergantung pada pemenuhan sejumlah persyaratan pendahuluan (conditions precedent).
Direktur BYAN, Jenny Quantero, memastikan penandatanganan perjanjian tidak menimbulkan dampak negatif material terhadap operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha perseroan. Harga transaksi belum diumumkan.
Sebelumnya, beredar rumor Haji Isam menawarkan US$3 miliar untuk sekitar 62% saham BYAN. Dengan asumsi kurs Rp17.700 per dolar AS, nilai tersebut setara Rp53,1 triliun.
Sejarah Panjang Bayan
Akar Bayan sebenarnya bermula dari sosok lain, Haji Asri. Ia mendirikan PT Gunung Bayan Pratamacoal (GBP) pada dekade 1990-an dalam skema Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Saat itu, Low Tuck Kwong adalah kontraktor melalui PT Jaya Sumpiles Indonesia (JSI), yang bergerak di pembersihan lahan, penambangan sederhana, dan pengangkutan hasil tambang. Menurut buku Para Raja Batu Bara (2019), Low bukan orang asing bagi Asri karena dialah yang menyurvei lahan milik Gunung Bayan.
Sengketa muncul karena perbedaan tafsir atas kerja sama 1997. Haji Asri menilainya sebagai afiliasi dan mengklaim pembayaran belum lunas, sedangkan Low menganggapnya sebagai pengalihan saham. Mahkamah Agung menilai akta jual beli di hadapan notaris sah dan tidak menemukan bukti pemalsuan surat. Sejak itu Low mempertahankan kendali atas Gunung Bayan, yang kelak melahirkan bayan resources dan mengantarkannya disebut sebagai orang terkaya di Indonesia.
Kini, kendali Bayan memasuki babak baru. Pasar menanti harga transaksi yang sebenarnya, jumlah saham yang akan dialihkan oleh masing-masing pihak, serta pemenuhan persyaratan pendahuluan. Investor juga akan mencermati apakah transaksi ini mengubah struktur kepemilikan dan pengendalian BYAN setelah seluruh syarat terpenuhi.



(fsd/fsd)



Source https://www.cnbcindonesia.com

Page Comments