Saham BRMS, EMAS, AADI jadi Favorit Investor Asing, Simak Top 10 Saham Net Buy Asing Sepekan

Admin Ugems
2 Minute Read - Sat Sep 19 07:00:00 GMT 2026

Bisnis.com, JAKARTA — Saham tambang BRMS, EMAS, AADI, hingga AMMN menjadi incaran kala investor asing mencatatkan net sell Rp1,84 triliun sepanjang pekan 14—18 September 2026.
Mengutip data RTI, investor asing membukukan net sell sekitar Rp1,84 triliun sepanjang pekan tersebut. Di tengah aksi jual tersebut, saham PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) menjadi saham dengan nilai net buy asing terbesar, mencapai Rp324,7 miliar.
Saham tambang emas PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) menempati posisi berikutnya dengan nilai pembelian bersih asing sebesar Rp122,9 miliar. Selanjutnya, saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) mencatatkan net buy Rp115 miliar.
Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) juga masuk dalam daftar saham yang paling banyak diborong investor asing dengan nilai net buy Rp92,3 miliar.

Selain saham tambang, investor asing turut mencatatkan pembelian bersih pada sejumlah saham dari sektor lain. Saham PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA) mencatatkan net buy Rp74,9 miliar, sedangkan PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) sebesar Rp33,3 miliar.
Di sektor pertambangan lainnya, saham PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) mencatatkan net buy Rp43,3 miliar, PT Bukit Asam Tbk. (ptba) Rp30,3 miliar, dan PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) Rp28,9 miliar.
Sementara itu, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) melengkapi daftar 10 saham dengan nilai net buy asing terbesar, yakni Rp22 miliar.
Top 10 Saham Net Buy Asing Sepekan

BRMS — Rp324,7 miliar
EMAS — Rp122,9 miliar
AADI — Rp115 miliar
AMMN — Rp92,3 miliar
ERAA — Rp74,9 miliar
ARCI — Rp43,3 miliar
PGAS — Rp33,3 miliar
ptba — Rp30,3 miliar
ANTM — Rp28,9 miliar
TLKM — Rp22 miliar

Aksi jual asing tersebut berlangsung ketika indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami tekanan sepanjang pekan perdagangan 14—18 September 2026.
Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Elsierra Putri Yosita mengatakan sejumlah indikator perdagangan saham BEI bergerak dinamis sepanjang pekan tersebut. IHSG turun 1,53% menjadi 6.441,159 pada akhir pekan dari posisi 6.541,377 pada pekan sebelumnya.
“Sejalan dengan pergerakan IHSG, kapitalisasi pasar BEI berubah 1,58% menjadi Rp11.266 triliun dari Rp11.446 triliun pada pekan sebelumnya,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (18/9/2026).
Dari sisi aktivitas transaksi, rata-rata nilai transaksi harian BEI turun 6,95% menjadi Rp15,22 triliun dari Rp16,36 triliun pada pekan sebelumnya.
Rata-rata frekuensi transaksi harian juga turun 14,73% menjadi 1,89 juta kali transaksi dari 2,22 juta kali transaksi. Sementara itu, rata-rata volume transaksi harian BEI turun 20,71% menjadi 28,61 miliar saham dari 36,09 miliar saham pada pekan sebelumnya.
Adapun pada perdagangan Jumat (18/9/2026), investor asing mencatatkan net sell Rp1,79 triliun. Secara kumulatif sepanjang 2026, investor asing telah membukukan net sell Rp74,36 triliun.
Pelemahan IHSG pada pekan ini tidak terlepas dari tekanan bursa global menyusul sentimen hawkish The Fed.
Analis Stockbit Sekuritas dalam laporannya menyebutkan The Fed menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%—4% pada Rabu (16/9) waktu setempat. Kenaikan tersebut sesuai dengan ekspektasi konsensus dan menjadi kenaikan suku bunga AS pertama sejak 2023.
Selain keputusan tersebut, The Fed memperbarui proyeksi suku bunga pada akhir 2026 menjadi kisaran 4%—4,25%. Proyeksi itu mengindikasikan masih terdapat peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 bps hingga akhir tahun.
Menurut analis Stockbit Sekuritas, reaksi pasar yang relatif terbatas, baik pada pasar obligasi maupun saham, menunjukkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga lanjutan telah diperhitungkan oleh pelaku pasar.
“Kami menilai reaksi market yang cenderung terbatas, baik di pasar obligasi maupun saham, menandakan bahwa multiple rate hikes sudah diekspektasikan oleh market [priced-in],” tulis analis Stockbit Sekuritas.
Dengan ekspektasi masih adanya satu kali kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir 2026, Bank Indonesia (BI) dinilai berpotensi mengikuti arah kebijakan tersebut.
Analis Stockbit Sekuritas menilai BI berpotensi menaikkan suku bunga sebanyak dua kali masing-masing 25 bps atau hanya sekali, bergantung pada perkembangan stabilitas rupiah.



Source https://www.bisnis.com

Page Comments