Bahlil: Eropa Kembali ke Batu Bara, RI Diminta Pasok 20 Juta Ton

Admin Ugems
一分钟阅读 - Sun May 03 01:04:00 GMT 2026

- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan adanya permintaan batu bara mencapai 20 juta ton per tahun dari negara-negara Uni Eropa (UE) di tengah dinamika geopolitik global yang belum mereda.
Permintaan tersebut muncul saat sejumlah negara maju kembali membuka opsi penggunaan energi fosil.
Sayangnya Bahlil tidak mengungkapkan kapan permintaan tersebut disampaikan dan negara di Uni Eropa yang meminati batu bara Indonesia tersebut.


“Sekarang Amerika buka opsi batu bara, di Eropa membuka opsi batu bara ada minta kami untuk 20 juta per tahun,” ujar Bahlil dalam acara Sinergi Alumni IPB di Jakarta pada Sabtu, (2/5/2026).



Bahlil menyebut, kondisi global saat ini membuat banyak negara mengubah strategi energi mereka, termasuk yang sebelumnya mendorong transisi energi bersih.
Dalam situasi tersebut, Indonesia justru melihat peluang sekaligus tantangan dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Menurut dia, langkah negara-negara maju tersebut menunjukkan adanya inkonsistensi dalam agenda transisi energi global.

Di satu sisi mendorong negara berkembang untuk meninggalkan batu bara, namun di sisi lain justru kembali memanfaatkannya untuk kepentingan domestik.
“Dia suruh kami pensiun, dia sendiri tidak pensiun-pensiun. Bagaimana ini net zero emission 2050 2060,” ujarnya.
Awalnya, Bahlil menyinggung publikasi JP Morgan Asset Management yang diklaim menempatkan Indonesia menjadi negara kedua yang paling tahan krisis energi global, salah satu faktornya langaran produksi dan cadangan batu bara Indonesia yang sangat besar.

Bahlil menilai, keinginan Eropa tidak bisa direspons secara normatif.

Pemerintah, kata Bahlil, memilih pendekatan realistis dengan tetap memanfaatkan sumber energi domestik demi menjaga stabilitas ekonomi dan keterjangkauan energi bagi masyarakat.
“Saya bilang ini model apa. Saya putuskan, saya bilang (PLTU-PLTU) batu bara jalan saja dulu. Ini bicara tentang survival mode, kami bicara tentang efisiensi. Jangan kami korbankan rakyat kami dengan harga listrik yang besar,” tegasnya.
Ia menambahkan, Indonesia tidak ingin terjebak dalam skema global yang justru merugikan kepentingan nasional.
Oleh karena itu, kebijakan energi akan disesuaikan dengan kebutuhan dalam negeri, bukan semata mengikuti tekanan eksternal.






Dalam jangka panjang, pemerintah tetap mendorong pengembangan energi baru dan terbarukan.
Namun dalam jangka pendek, pemanfaatan batu bara dinilai masih menjadi pilihan strategis untuk menjaga ketahanan energi dan stabilitas harga listrik di dalam negeri.



Source https://money.kompas.com

页面评论