Intip Proyeksi Laba Berbeda SMGR INTP dari MNC Sekuritas hingga Akhir 2026

Admin Ugems
2 分钟阅读 - Thu Jul 30 01:00:00 GMT 2026

Bisnis.com, JAKARTA — MNC Sekuritas memberikan prospek laba yang berbeda terhadap dua emiten semen, yakni PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR) dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP) sepanjang 2026.
Analis MNC Sekuritas Muhammad Rudy Setiawan memproyeksikan laba bersih SMGR yang positif pada 2026 melonjak 53,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut didorong oleh efek basis yang rendah setelah laba perseroan tertekan dalam dua tahun terakhir serta mulai pulihnya margin usaha.
Sebaliknya, laba bersih INTP diperkirakan turun 4,6% pada 2026.
"Proyeksi terhadap INTP tersebut mencerminkan pertumbuhan volume yang lebih lambat dibandingkan industri serta berkurangnya pangsa pasar, sementara laba perseroan telah lebih dulu pulih pada 2025 sehingga basis pembanding menjadi lebih tinggi," ujarnya dalam riset yang dikutip, Rabu (29/7/2026).

Sejauh ini MNC Sekuritas melaporkan kinerja operasional PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP) pada Juni 2026 dinilai mampu melampaui pertumbuhan industri. Perseroan membukukan volume penjualan sebesar 8,40 juta ton pada semester I/2026 atau naik 4,9% secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut didukung oleh kenaikan penjualan semen curah, penyesuaian harga jual yang dilakukan lebih awal, serta kontribusi dari bisnis mortar.
Sementara itu, dari pernyataan tertulisnya, emiten semen pelat merah, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR) membukukan volume penjualan sebesar 18,27 juta ton, meningkat 5,6% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 17,3 juta ton.
MNC Sekuritas juga mencatat volume penjualan semen nasional sepanjang semester I/2026 mencapai 29,93 juta ton atau tumbuh 10,2% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan permintaan dari segmen ritel maupun proyek, dengan semen curah mencatatkan pertumbuhan yang sedikit lebih tinggi dibandingkan semen kantong.
Berdasarkan kondisi tersebut, MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi neutral untuk sektor semen. Meski permintaan menunjukkan perbaikan, tekanan biaya dan kondisi keuangan sektor konstruksi dinilai masih berpotensi membatasi kinerja industri.
Untuk masing-masing emiten, MNC Sekuritas menetapkan target harga SMGR Rp1.785 per saham, dengan prospek didukung pemulihan laba dan margin.
Sementara itu, untuk PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP) dengan target harga Rp4.309 per saham.
Proyeksi Semester II/2026
Lebih jauh Rudy menilai kinerja emiten semen pada paruh kedua 2026 masih ditopang oleh pemulihan permintaan domestik.
Namun, kenaikan biaya energi, volatilitas nilai tukar rupiah, dan ongkos logistik membuat kemampuan perusahaan menjaga margin keuntungan menjadi faktor penentu kinerja, bukan lagi sekadar pertumbuhan volume penjualan.
Secara historis kuartal III/2026 merupakan periode musiman yang lebih kuat bagi industri semen. Meski demikian, laju pemulihan pada semester II/2026 tetap akan bergantung pada kondisi makroekonomi dan kemampuan produsen mengelola kenaikan biaya.
"Tantangan utama industri saat ini bukan lagi berasal dari sisi permintaan, melainkan tekanan terhadap biaya produksi. Harga batu bara dan bahan bakar yang masih tinggi diperkirakan meningkatkan biaya produksi secara signifikan," terangnya.
Menurutnya, INTP menjadi salah satu produsen yang paling awal menaikkan harga jual. Perseroan menaikkan harga semen kantong sekitar Rp1.500–Rp2.000 per sak, sedangkan harga semen curah naik Rp40.000–Rp50.000 per ton di berbagai wilayah utama.
Manajemen memperkirakan kenaikan harga tersebut dilakukan untuk mengimbangi peningkatan biaya produksi sekitar Rp50.000–Rp60.000 per ton atau setara 6–7%. Bahkan, terdapat potensi tambahan kenaikan biaya sekitar Rp25.000–Rp30.000 per ton apabila harga batu bara dan bahan bakar tetap tinggi.
Di sisi lain, SMGR memperkirakan kenaikan biaya energi dapat meningkatkan harga pokok penjualan sekitar 5% per ton. Perseroan juga membuka peluang melakukan penyesuaian harga lebih lanjut apabila biaya bahan baku belum menunjukkan penurunan.
Dengan demikian, MNC Sekuritas menilai kemampuan emiten meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen akan menjadi faktor penentu kinerja laba pada semester II/2026. Apabila penyesuaian harga tidak mampu mengimbangi lonjakan biaya, margin EBITDA produsen semen berpotensi tergerus hingga 1,9 poin persentase.
Di sisi lain, dia menilai masih terdapat sejumlah tantangan yang dapat menggerus margin emiten semen terutama akibat fluktuasi harga komoditas. Selain itu, kondisi neraca keuangan perusahaan konstruksi juga masih perlu dicermati karena berpotensi menahan pertumbuhan permintaan semen domestik.
Adapun risiko utama terhadap proyeksi tersebut meliputi permintaan semen yang lebih lemah dari perkiraan. Selanjutnya, kebijakan Over Dimension Over Load atau Odol, penerapan pajak karbon, dan perubahan regulasi Domestic Market Obligation (DMO).
-----
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



Source https://www.bisnis.com

页面评论